• 5 Terbaru

    February 28, 2016

    Agama Bukan Sekedar Simbol


    agama bukan sekedar simbol

    Agama apalagi Islam tentu bukan sekedar simbol bagi pemeluknya (seharusnya). Namun pada tataran konkrit, Agama lebih sering hanya menjadi sebuah simbol. Beragama tidak lagi sebagai sebuah keniscayaan. Beragama juga tidak lagi dihayati dengan sesungguhnya. Padahal seharusnya, Agama menjadi pembimbing bagi pemeluknya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat.

    Kang Sodikin kali ini memposting hasil resensi terhadap buku yang sangat bagus. Buku yang berjudul  "Di Balik Simbol : Memahami Pesan Agama dengan Semangat Kemajuan" ini layak dibaca oleh pecinta buku, khususnya buku-buku tentang Islam. Kemudian dari hasil resensi ini diposting dengan judul Agama bukan sekedar simbol.

    Baca juga: Kampaye Anti Sampah Plastik


    Resensi buku "Di Balik Simbol : Memahami Pesan Agama dengan Semangat Kemajuan" ditulis oleh seorang yang bergelar Magister dan dengan bahasa yang baik. Sehingga dengan membaca resensi ini Anda akan tertarik untuk membelinya dan tentu saja akan mendapatkan pencerahan bila telah membacanya.

    Dibawah ini adalah resensi lengkap sebagaimana yang ditulis dalam Majalah "Suara Muhammadiyah" :

    Realitas kehidupan sosial bisa satu. Namun, cara pandang terhadapnya bisa berbeda-beda. Begitu juga, dengan pesan agama (Islam) yang terkmaktub dalam Kitab Suci tidak akan berubah hingga akhir zaman. Namun, cara seseorang memahami dan menafsirkannya menjadi sangat plural.

    Prof DR Syafiq A Mughni memiliki perspektif yang unik dalam memandang sebuah realitas sosial yang terjadi di sekelilingnya. Landasan utamanyatetap-Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Namun, cara Ketua PP Muhammadiyah mencandra normativitas Islam berbeda dari masyarakat Muslim pada umumnya. Buku ini hendak memberikan warna lain dalam memandang realitas dengan perspektif agama yang khas, yaitu cara pandang agama (Islam) substantif, sebuah model pendekatan gaya masyarakat kota. Dalam konteks ini, setidaknya ia telah membedakan diri dari mereka yang formalis-tekstualistik dan fundamentalistik.

    Baca juga: Ketika Seorang Siswiku Hamil


    Dengan judul "Di Balik Simbol", buku ini (seakan) hendak mendekonstruksi satu pemikiran awam yang bertumpu pada formalitas agama yang seringkali terjebak pada pesona lahiriyah dan simbol-simbol keagamaan. Simbol, menurut buku kumpulan tulisan ini, memang diperlukan dalam interaksi antar manusia. Simbol merupakan hasil kesepakatan orang-orang yang terlibat dalam interaksi itu. Orang akan mengenal sesuatu melalui simbol.

    Namun, seringkali orang beragama berhenti pada simbol, tanpa menangkap maknanya. Orang sering terkecoh pada simbol. Tidak jarang, jenggot dianggap simbol ketakwaan, padahal sinterklas {Saint Claus) dan orang Yahudi ortodoks berjenggot lebat. Orang Islam merasa kurang afdhal kalau pergi ke masjid tidak pakai sarung, padahal orang-orang Budha di Myanmar suka pakai sarung jika hendak menjalankan ritual agamanya. Seorang khatib juga dianggap tidak patut jika tidak memakai kopiyah atau sorban. Padahal, orang-orang Hindu di India suka pakai kopiyah jika berkhutbah.

    Hingga di sini, lahirlah sakralisasi simbol, meski ia hanya berguna jika ada makna di baliknya. Ada perbedaan antara simbol dan makna, wadah dan isi, form dan matter. Banyak orang yang hanya tahu simbol tanpa tahu reasoning^ maknanya. Mereka berjuang menegakkan simbol itu dan bahkan "menyembahnya". Celakanya, mereka telah merasa mendapatkan tiket masuk surga dengan memperjuangkan simbol.

    Baca juga: Apa Pentingnya Boarding School?


    Dengan perspektif yang bersifat dekonstrukstif itu, guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini kemudian mengeksplorasi simbol-simbol agama yang sering disalahpahami di tengah masyarakat, seperti ulama, wali, umara. mazhab, stempel Wahhabi, khalifah, menara masjid dan sebagainya. Tentang ulama, misalnya. Secara substantif, ulama adalah orang-orang yang berilmu, takut dan bertakwa kepada Allah. Namun, dalam perkembangannya, ulama direduksi dan disederhanakan menjadi kiai, buya. ustadz. ajengan. dan sebagainya (h. 21).

    Secara umum, buku ini menyiratkan satu pesan bahwa setiap simbol punya makna; setiap bentuk punya isi,setiap musik punya syair. Dalam beragama, seseorang jangan berhenti pada simbol. Seseorang harus mencan dan mengambil makna di balik simbol. Dengan demikian, umat Islam akan bisa beragama secara holistik (kaffah), tidak parsial. Sekali lagi, ia hendak membumikan pemahaman agama secara substantif pada khalayak.

    Selain mengkaji tentang simbol-simbol agama, buku ini juga memuat artikel pengalaman Syafiq ketika berkunjung ke beberapa negara, mulai negara yang miskin seperti Ethiopia hingga Amerika Serikat dan Jepang yang maju. Dengan demikian, buku ini —bisa dikatakan— merupakan refleksi dari pengalaman penulisnya dalam konteks pergaulan yang luas. Hanya saja, pengalaman itu kemudian dikonsultasikan dengan normativitas Al-Qur'an dan Sunnah Nabi —sekalipun kadangkala tidak pernah menyebutkan ayat-ayatnya secara langsung.*

    Judul Buku : Di Balik Simbol, Memahami Pesan Agama dengan Semangat Kemajuan
    Pengarang : SyafiqA. Mughni
    Penerbit : Hikmah Press, Surabaya, November 2011
    Tebal Buku : viii + 276 halaman
    Oleh : BAHRUS SURUR-IYUNK, MA

    Penulis adalah alumnus Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tinggal di Sumenep Madura

    No comments:

    Post a Comment

    sodikin.com adalah blog pribadi yang diterbitkan oleh Sodikin Masrukhin. Ia seorang guru yang suka ngeblog di sela waktu senggangnya. Ada banyak hal yang bisa dibaca dan dinikmati dalam blog ini.
    Blog ini berisi tips dan cara, catatan, renungan dan hal lain yang bermanfaat. Pembaca boleh memanfaatkan konten blog ini untuk hal-hal yang bermanfaat. lanjut»»

    Indonesiaku