Ngantar Anak Mondok

Setelah lulus MI Muhammadiyah Gembong, Purbalingga,
anakku aku daftarkan di Pondok Pesantren modern Zam-Zam Cilongok Banyumas.

Aku Suka Motret

Meski aku seorang guru Madrasah, tetapi aku punya hobi fotografi

Belajar Digital Imaging

Temans, aku juga suka lho belajar digital imaging.
Itu tuh edit-edit gambar, olah gambar, atau gabung beberapa gambar

Pendidikan Sex, Relevankah?

Pendidikan Sex, Relevankah? - Pertanyaan mengenai hal tersebut sengaja saya ajukan dalam artikel ini sebagai bentuk kegalauan hati. Banyak pakar membicarakan tentang pendidikan seks (sex education) dengan mengaitkan pada prilaku sex pra nikah. Mereka menganggap penting hal itu dan seakan-akan yakin pendidikan sex adalah solusi bagi masalah sex di luar nikah.

Saya menulis artikel Pendidikan Sex, Relvankah? dengan sudut pandang saya yang dari pesantren dan terkadang dimintai tolong untuk memberikan taushiyah dan nasehat kepada semua kalangan, termasuk remaja dan pelajar. Dari sudut pandang saya tadi, tentu saya tidak kuasa menjawab pertanyaan, "kenapa banyak terjadi perzinaan?" dengan jawaban "karena tidak mendapatkan pendidikan sex".

Sebagian orang memang menganggap pendidikan sex sejak dini adalah solusi. Di berbagai forum hal tersebut disinggung. Tidak terkecuali dalam diskuci kecil yang terjadi di Groups Padepokan Guru Indonesia (PaGI) di jejaring sosial Facebook. Lihat gambar di bawah :

Diskusi kecil tersebut terjadi saat teman saya, Nanang Jogja menulis di wall akun facebooknya, "Fenomena hamil di luar nikah, mengapa ini terus terjadi?". Ternyata tema tersebut menarik dan mengundang komentar. Saat artikel ini di tulis, komentar pada tema diskusi itu mencapai 46. Dan yang menarik, di antara sekian komentar ada yang memberikan solusi dengan pendidikan seks sejak dini. Bagi sebagian orang, pendidikan sex sejak dini adalah solusi. Tetapi bagi saya dengan latar belakang pesantren dan guru, balik bertanya, "apa iya, pendidikan sex solusinya?" terhadap masalah hamil di luar nikah.

Substansi Masalah


Terjadinya praktek sex di luar nikah, dari sudut pandang saya, substansi masalahnya bukan karena sudah pernah mendapatkan pendidikan sex atau belum. Atau sudah lulus dari pendidikan sex atau belum?. Menurut saya, memberikan solusi dengan pendidikan sex sejak dini sama halnya membagikan kondom gratis ketika memecahkan masalah sex di luar nikah. Keduanya sama-sama tidak menyentuh akar masalahnya.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang melanggar hukum tentu masalahnya bukan terletak pada apakah pelakunya sudah pernah mendapat pendidikan hukum atau belum? Bagi pelanggar hukum tentu solusinya tidak dengan diberi pendidikan hukum, apalagi sekolah hukum.

Terjadinya hamil dan praktek sex di luar nikah, sekali lagi dari sudut pandang saya, masalah sebenarnya adalah :
  1. Melonggarnya pranata sosial atau aturan tak tertulis yang berlaku di masyarakat. Aturan tak tertulis berupa etika atau moral sepertinya sudah tidak berlaku lagi.
  2. Kontrol dan sanksi sosial tak pernah ada. Apapun yang terjadi di lingkungannya dianggap sebagai urusan pribadi dan orang lain tidak boleh mengharu biru. Perzinaan terjadi di dekatnyapun didiamkan karena bukan urusannya
  3. Hilangnya unsur malu dari diri seseorang. Malu adalah senjata utama untuk menjaga kehormatan dan harga diri. Malu juga merupakan rem ampuh guna menghentikan berbagai tindakan amoral. Kalau malu sudah tidak lagi melekat dan menghiasi hidup seseorang, apa yang terjadi pastilah dapat diperkirakan
  4. Orang tua yang tidak menerapkan aturan ketat terhadap persoalan akhlak bagi anak-anaknya. Nasehat orang tua berupa kalimat pendek untuk mengingatkan bahwa yang dilakukan anaknya adalah tidak pantas, "huss...ora elok" dan "huss...saru" sudah tidak pernah terdengar lagi. Orang tua banyak mendiamkan prilaku salah anak-anaknya, baik berpakaian, berbicara ataupun saat bergaul dengan teman lawan jenisnya. Orang tua tak lagi menganggap penting menanamkan sikap malu pada anak-anaknya meskipun malu merupakan benteng kehormatan keluarganya
  5. Guru yang terlalu fokus pada mata pelajaran dan sama sekali tidak menyentuh budi pekerti luhur juga turut memberikan andil
  6. Dalam kontek Agama, perzinaan adalah bentuk ketidaktaatan terhadap syari'at oleh individu.

Solusi?


Terjadinya hamil atau sex di luar nikah, yang dalam bahasa Agamanya disebut zina, masalah pokoknya adalah hilangnya rasa malu dari diri seseorang dan dan rendahnya tingkat ketaatan menjalankan syariat Agama yang dianut.

Oleh karena itu hal-hal yang perlu dilakukan adalah :
  1. Siapapun harus terlibat, tidak hanya da'i, dalam menanamkan pentingnya ketaatan dalam menjalankan ajaran Agama. Masing-masing pihak harus menjalankan fungsi taushiyah (saling mengingatkan). Perzinaan adalah masalah bersama dan harus ditanggulangi bersama;
  2. Membudayakan sikap malu bertindak amoral di rumah, di masyarakat atau di manapun baik ketika sedang bersama orang lain ataupun saat sendirian. Dalam kontek ini, orang tua adalah orang pertama yang harus mengambil peran;
  3. Semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan harus mengambil peran dalam upaya menanamkan malu. Jadikan sikap malu sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.
Demikianlah artikel tentang Pendidikan Sex, Relevankah? semoga bermanfaat.
Advertisemen 336x280
Disqus Comments

ABOUT

Tentang Admin & Blog
About

CONTACT

Hubungi kami disini
Hubungi

PAYMENT

Cara pembelian template di Goomsite
Privacy

Disclaimer

Pasang iklan Anda di Blog kami
Disclaimer

Catatan Kang Sodikin

sodikin.com merupakan catatan dan pikiran Kang Sodikin di waktu senggang dan tidak sedang melakukan apa-apa. Bisa juga merupakan hasil lamunan yang tidah jelas arahnya...he he...

NEWSLETTER SIGNUP

Trending Sepekan