• 5 Terbaru

    January 22, 2017

    Gerakan Anti Putus Sekolah

    Gerakan Anti Putus Sekolah

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mencanangkan Gerakan Anti Putus Sekolah. Gerakan Anti Putus Sekolah ini harus didukung oleh semua pihak, baik yang berkecimpung di dunia pendidikan maupun yang tidak.

    Gerakan Anti Putus Sekolah menjadi sangat penting mengingat angka putus sekolah di Indonesia mencapai 1,08 juta anak (data tahun 2010). Angka tersebut mempunyai andil besar sebagai sebab rendahnya Education Development Index (EDI) Indonesia, yaitu peringkat ke-69 dari 127 negara.

    Bagi saya pribadi selaku pengelola sekolah atau madrasah swasta, Gerakan Anti Putus Sekolah merupakan hal yang luar biasa dan sangat besar manfaatnya. Gerakan Anti Putus Sekolah sejak dulu sangat saya nantikan. Tentu saja, sebagai pengelola sekolah atau madrasah swasta banyak mengalami anak putus sekolah yang sangat banyak setiap tahunnya.

    Bagi sekolah yang tidak mengalami kasus putus sekolah sedemikian besar, Gerakan Anti Putus Sekolah mungkin tidak begitu berarti. Tapi bagi sekolah atau madrasah dengan tingkat putus sekolah sangat tinggi, program atau Gerakan Anti Putus Sekolah menjadi sangat berarti. Apalagi ide Gerakan Anti Putus Sekolah ini datangnya dari pemerintah atau Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

    Berdasarkan pengalaman selama mengelola sekolah atau madrasah dengan tingkat putus sekolah sangat tinggi, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut berdasarkan situasi sosial yang terjadi di tempat saya tinggal, yaitu Kabupaten Purbalingga Propinsi Jawa Tengah. Sekedar informasi, Kabupaten Purbalingga merupakan satu di antara sekian kabupaten yang sedang menggeliat secara ekonomi. Banyak PMA khususnya Korea yang menanamkan modalnya di sini. Kabupaten Purbalingga merupakan sentra industri rambut berskala ekspor. Sayangnya, karyawan yang dipekerjakan tidak sedikit yang berusia sekolah.

    Faktor-faktor Anak Putus Sekolah


    Sekali lagi saya sebutkan bahwa faktor-faktor yang saya tulis dalam posting ini adalah berdasarkan pengalaman sendiri yang hidup di Kabupaten Purbalingga. Diantara faktor-faktor tersebut adalah :

    1. Banyak berdiri pabrik-pabrik rambut palsu yang mempekerjakan anak-anak usia sekolah. Bahkan, pabrik rambut palsu ini membuka plasma-plasma atau cabang-cabang kecil di perkampungan penduduk;

    2. Tidak ada gambaran pasti, apa yang akan terjadi setelah lulus sekolah nanti. Bagi mereka, keluar dari sekolah nanti (lulus) atau keluar sekolah sekarang (putus sekolah) adalah sama saja yaitu kerja di perusahaan rambut. Jika sekarang dengan ijazah SD saja sudah diterima bekerja, kenapa harus nunggu lulus SLTA;

    3. Desakan ekonomi. Karena ekonomi keluarga yang serba pas-pasan, maka anak usia sekolah atas kesadaran sendiri atau desakan orang tua kemudian keluar sekolah untuk bekerja dan membantu ekonomi keluarga;

    4. Sudah enggan berpikir. Sebagian anak yang putus sekolah ketika ditanya mereka menjawab dengan kalimat “sudah tidak mau berpikir”

    Keempat faktor tersebut tentu belum mewakili kesemuanya karena memang itu didasarkan pada pengalaman pribadi dan lokal. Masih banyak faktor lain yang berskala nasional sehingga mempengaruhi pemerintah untuk memberikan Gerakan Anti Putus Sekolah. Sebagai contoh, masih banyaknya sekolah/madrasah yang sulit diakses karena tempatnya yang sangat jauh atau sarana menuju kesana yang tidak ada dan ata tidak memadai.

    Solusi


    Terkait dengan Gerakan Anti Putus Sekolah ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mensukseskannya dan mengurangi angka putus sekolah. Antara lain adalah :

    1. Melaksanakan dengan tegas peraturan tentang syarat seseorang diterima sebagai tenaga kerja dan mempidanakan perusahaan atau pemilik yang mempekerjakan anak usia sekolah;

    2. Semua guru (tidak hanya guru BK) harus berperan aktif memberikan bimbingan kepada semua siswa tentang pentingnya sekolah dan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari;

    3. Para muballigh dan tokoh masyarakat memberikan bimbingan kepada orang tua tentang pentingnya memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Buat sebuah gerakan atau ciptakan perasaan malu jika anaknya ada yang putus sekolah;

    4. Lembaga pendidikan dan para guru harus bisa mengkondisikan proses pembelajaran yang baik dan menggembirakan.

    5. Bagi pemerintah, harus menyediakan fasilitas belajar yang baik dan cukup. Akses menuju tempat belajar dipermudah dengan menyediakan berbagai sarana transportasi, jalan dan jembatan yang baik. Mencukupi semua kebutuhan pendidikan anak dan sebagainya.

    Masih banyak hal lain yang dapat dilakukan untuk mendukung Gerakan Anti Putus Sekolah. Kita tunggu aksi pemerintah dengan ide Gerakan Anti Putus Sekolah ini. Apa yang akan dilakukan kita dapat melihatnya nanti.

    Kita berharap, semoga Gerakan Anti Putus Sekolah ini benar-benar nyata dan tidak sekedar retorika semata. Ayo dukung Gerakan Anti Putus Sekolah.

    4 comments:

    1. namabah aja, putus sekolah juga karena anak nyaman diluar sekolah, senang diluar seekolah, kecanduan HP,TV,PS, Dan ikut geng Motor.bahkan anak berani ngancam ke ORTU kalau diberi motor baru mau sekolah. Ya benernya tugas Bersama antara Aparat Polisi, Satpol PP,dan masayarakat.untuk menertibkan hal2 yg membuat anak putus sekolah.

      ReplyDelete
    2. Syrat Menikah minimal lulus SMP dan Bisa baca AL QURAN. gmn?

      ReplyDelete
    3. syarat nikah udah ditentukan oleh agama... bukan oleh kak jumbo...

      ReplyDelete
    4. Bener Mas, kebetulan saya juga guru di salah satu SD di pelosok desa, hampir tiap tahun ada saja anak yg putus sekolah, sekolah udah berupaya mendatangi ke rumahnya memberikan pengertian, motivasi, tapi ya tetap saja gagal. Memang kesadaran tentang pendidikan sebagian masyarakat masih rendah.

      ReplyDelete

    sodikin.com adalah blog pribadi yang diterbitkan oleh Sodikin Masrukhin. Ia seorang guru yang suka ngeblog di sela waktu senggangnya. Ada banyak hal yang bisa dibaca dan dinikmati dalam blog ini.
    Blog ini berisi tips dan cara, catatan, renungan dan hal lain yang bermanfaat. Pembaca boleh memanfaatkan konten blog ini untuk hal-hal yang bermanfaat. lanjut»»

    Indonesiaku