• 5 Terbaru

    February 2, 2017

    Penyebab Putus Asa

    Penyebab dan Hikmah menjauhi putus asa - hopeless
    Putus asa (despair, desperate, hopeless, lose heart) adalah salah satu penyakit ruhani, yaitu kehabisan atau kehilangan harapan. Putus asa juga berarti sudah tidak memiliki harapan lagi. Putus asa termasuk bagian dari pesimisme dalam diri seseorang.

    Dalam kontek Agama, putus asa termasuk dalam hal-hal yang sangat dibenci dan dicela. Jika dalam diri seseorang dihinggapi sikap Putus asa maka berarti dia telah mati sebelum diambil nyawanya. Dalam usaha, berarti ia telah gagal walaupun ia belum mencoba menjalankan usahanya.

    Putus asa benar-benar menyebabkan seseorang kehilangan keberanian untuk mencoba lagi bangkit setelah tertimpa keterpurukan. Yang keterpurukan tersebut bisa disebabkan oleh banyak hal misalnya kegagalan dalam berusaha, tertimpa musibah, gagal dalam bercinta, dan sebagainya.

    Penyebab Putus Asa


    Dalam posting ini diungkap sebab-sebab serta faktor yang bisa menyebabkan keputusasaan. Sebab-sebab yang dapat menimbulkan putus asa adalah:

    1.  Selalu mengingat musibah yang pernah menimpa hingga tidak mampu lagi untuk melupakannya. Juga selalu membayangkan peristiwa itu hingga tidak dapat lagi menjauhkannya. Tahukan Anda jika musibah atau peristiwa-peristiwa menyedihkan selalu diingat-ingat maka kita tidak akan pernah menemukan sesuatu yang dapat menghibur. Jika kita terus membayangkan musibah yang memilukan maka pasti kita tidak akan bisa bersabar.

    Dikatakan oleh Umar bin Khaththab RA , “Janganlah kamu mencucurkan air mata karena mengingatnya.”

    2. Menyesal dan larut dalam duka cita secara berlebihan sampai tidak mampu mengambil hikmah dari peristiwa menyedihkan yang yang pernah menimpa serta tidak dapat mengganti sesuatu yang sudah hilang. Tahukah Anda jika penyesalan terjadi hingga sedemikian, maka penderitaan kita akan semakin meningkat dan tentu saja akan meningkatkan keputusasaan juga.

    Dalam surat Al Hadid: 23 Allah SWT berfirman, “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

    3. Terlalu banyak mengeluh serta sedikit sabar.

    Allah SWT telah menjelaskan dalam firman-Nya, “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.”

    Yang dimaksud dengan sabar yang baik adalah sabar yang tidak dibarengi dengan keluhan, kesedihan yang mendalam dan putus asa.

    Menurut Nabi SAW  sebagaimana yang diriwayatkan Anas bin Malik bahwa, “Tidak dianggap  sabar orang yang mendalam kesedihannya.”

    Dikisahkan bahwa ada seorang Arab pedalaman memasuki rumah seseorang karena ia mendengar berkali kali jeritan dari dalam rumah tersebut. Selanjutnya ia bertanya, “Ada apa gerangan? seseorang berkata kepadanya, “ada seorang keluarganya meninggal."

    Lalu orang arab pedalaman itu berkata lagi, “Aku tidak menyaksikan mereka kecuali semestinya mereka memohon pertolongan dan ma'unah kepada Allah, menerima qadha dan takdir dari-Nya, serta lebih mencintai pahala-Nya."

    Dalam kitab “Mantsuml Hikam” disebutkan, bahwa “Orang yang mempunyai hati sempit, maka ia akan lebar lidahnya" Maksudnya adalah dia akan banyak bercerita kepada orang lain tentang kesedihan dan musibah yang menimpanya serta menunjukkan rasa putus asa nya.

    Seorang ahli hikmah memberikan nasehat, “Janganlah kamu banyak menunjukkan keluhanmu kepada teman-temanmu, kembalikanlah masalahmu kepada Khaliq (Allah) dan tidak kepada makhluk. Sebab orang yang tenggelam tidak akan bisa menyelamatkan orang lain yang tenggelam juga.

    4. Putus asa dalam mencari way out dari musibah yang telah menimpanya. Jika seseorang selalu menangisi peristiwa kesedihan yang telah terjadi maka selamanya ia akan berada dalam lingkaran kegelisahan dan putus asa. Akibatnya adalah ia tidak mempunyai kesabaran dan tidak juga mempunyai sifat lapang dada.

    Bacalah nasehat Ibnu Rumi, "Wahai jiwa bersabarlah, satu - satunya yang pantas dilakukan hanyalah sabar. Memang kadang - kadang yang diharapkan tidak dapat diraih dan yang didapat adalah sesuatu hal yang sebetulnya tidak diharapkan.”

    5. Tidak berhati-hati dalam hal menjaga keselamatan serta memelihara kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah. Hal ini berakibat  ia melalaikan keamanan dan ketenangan jiwa, boros atau menghambur-hamburkan kekayaan dan kejayaannya pada hal-hal yang jelas tidak ada manfa’atnya sama sekali.

    Dia mempunyai anggapan bahwa bencana dan malapetaka tidak akan menimpa setelah memperoleh mapan dan kecukupan harta. Tahukah Anda bahwa orang yang demikian adalah masuk kategori orang yang tidak dapat bersabar ketika diuji dengan bencana. Dan pastinya ia tidak akan bersyukur pada saat memperoleh kenikmatan.

    Hikmah menjauhi putus asa

    Ada hikmah yang besar bila kita tidak menunjukkan putus asa dalam menghadapi berbagai bencana, malapetaka, kegagalan dan keterpurukan. Dengan menjauhkan diri dari rasa putus asa maka kita akan menjadi orang kuat, tegar, bersemangat. Kita juga akan mampu bangkit dan berdiri untuk kembali melakukan sesuatu yang harus dilakukan. Munculnya optimisme dan keyakinan untuk menatap masa depan. Hidup tidak untuk disesali, kegagalan dan malapetaka tidak untuk diratapi akan tetapi harus dihadapi dengan tegar dan penuh keyakinan akan keberhasilan.

    Demikianlah artikel tentang berbagai faktor atau penyebab dan hikmah menjauhi putus asa. Semoga bermanfaat. Jika Anda merasa artikel tentang Penyebab putus asa ini bermanfaat, silahkan berikan komentar.

    No comments:

    Post a Comment

    sodikin.com adalah blog pribadi yang diterbitkan oleh Sodikin Masrukhin. Ia seorang guru yang suka ngeblog di sela waktu senggangnya. Ada banyak hal yang bisa dibaca dan dinikmati dalam blog ini.
    Blog ini berisi tips dan cara, catatan, renungan dan hal lain yang bermanfaat. Pembaca boleh memanfaatkan konten blog ini untuk hal-hal yang bermanfaat. lanjut»»

    Indonesiaku