Begini proses terjadinya bayi tabung. Bayi tabung atau dalam istilah kedokteran disebut dengan in vitro fertilization (IVF) sering dijadikan pilihan oleh pasangan suami istri (pasutri) yang mengalami persoalan kesuburan, baik yang dikarenakan oleh faktor pria, faktor wanita, atau faktor kedua-duanya. Cara ini dianggap pas dan dapat menjadi alternatif pilihan yang efektif untuk mewujudkan harapan para pasangan suami istri mempunyai keturunan.

proses-terjadinya-bayi-tabung-in-vitro-fertilization-ivf-dengan-assisted-reproductive-technology

Tetapi, tahukah Anda apa itu bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) dan bagaimana proses bayi tabung dilakukan?

Program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) adalah salah satu cara yang bisa ditempuh untuk memperoleh kehamilan pada pasangan suami istri yang mengalami persoalan kesuburan dengan cara assisted reproductive technology (ART). Cara ini dilakukan dengan cara di mana sel telur yang sudah matang diambil dari indung telur istri dan dibuahi dengan sperma suami di luar tubuh istri. Sesudah terjadi pembuahan, beberapa embrio kemudian diletakkan kembali di dalam rahim si calon ibu lewat leher rahimnya.

Baca juga: 7 Cara Agar Kesehatan Mental Tetap Terjaga

"Sesudah terjadi pembuahan, sejumlah 2 hingga 3 embrio kembali ditanamkan ke dalam rahim si calon ibu. Cara ini tentu saja berbeda dengan konsep inseminasi normal di mana proses pertemuan antara sperma suami dan sel telur istri tetap terjadi di dalam tubuh istri," jelas dr. Yassin Yanuar Mohammad, SpOG(K), MSc dalam acara Overview dan Outlook Penanganan Gangguan Kesuburan di Indonesia yang diselenggarakan di kawasan Menteng, Jakarta, pada Selasa (18/12/2018).

Terdapat tiga jenis in vitro fertilization (IVF) yang bisa dilakukan pasangan suami istri yang mengalami gangguan kesuburan. Ketiga cara tersebut adalah
  1. in vitro fertilization (IVF)  dengan ICSI, 
  2. in vitro fertilization (IVF)  dengan siklus alamiah, 
  3. serta in vitro fertilization (IVF) konvensional. 
Dari seluruh data yang terhimpun, efek samping yang timbul pada pelaksanaan in vitro fertilization (IVF) tahun 2008-2009 adalah munculnya sindrom hiperstimulasi ringan, sedang dan berat. Juga adanya efek samping yang berupa infeksi dan perdarahan.

Dan Efek samping yang paling banyak dijumpai pada peserta program in vitro fertilization (IVF) adalah sindrom hiperstimulasi ringan sebesar 57%, sindrom hiperstimulasi sedang sebesar 28% dan sindrom hiperstimulasi berat sebesar 15%.

"Dari semuda data dapat diketahui bahwa tidak ada pasutri yang mengikuti program in vitro fertilization (IVF) yang mengalami efek samping berupa infeksi hingga perdarahan atau 0%," imbuh dia.

Sementara itu, tujuan utama program in vitro fertilization (IVF) adalah untuk mendapatkan oosit dalam jumlah yang banyak dan berkualitas baik sehingga bisa dibuahi, memperoleh kehamilan tunggal yang sehat, dan melakukan penyimpanan embrio yang berlebih guna memaksimalkan fungsi reproduksi. Oleh sebab itu, teknik stimulasi ovarium adalah prosedur yang sangat penting dalam program in vitro fertilization (IVF) tersebut.

Baca juga: Pipi Bayi Bisa Gatal Karena Disentuh Orang Dewasa?

"Keberhasilan program in vitro fertilization (IVF) sangat bergantung kepada pola rekruitmen peserta program dan teknik stimulasi ovarium yang ditentukan. Protokol dan tata kerja yang dipilih harus bisa menekan terjadinya kenaikan drastis LH, meningkatkan kemungkinan kejadian kehamilan dan cukup nyaman bagi peserta program," kata dr. Yassin.

Bagaimana pembaca, sudah paham tentang bagaimana proses terjadinya bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF)?

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya