Ngantar Anak Mondok

Anakku, Alfin Kurniawan sekarang bersekolah di pesantren. Setelah lulus MI Muhammadiyah Gembong, Purbalingga, anakku aku daftarkan di Pondok Pesantren modern Zam-Zam Cilongok Banyumas.

Rasanya berat memang. Dia anak satu-satunya. Sudah terbiasa setiap hari bersama-sama dalam suka dan duka. Dan ketika harus berangkat mondok seakan ada sesuatu yang hilang. Semuanya menjadi sepi. Tak terdengar lagi suaranya memanggil ayah atau ibu, tawanya, suara merajuknya dll. Yang paling hilang adalah suaranya yang setiap saat memanggil ibunya dengan panggilan "Bu....." dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Perasaanku memang menjadi berat setelah tak lagi sering bersama. Tiap malam, selalu teringat sama dia. Jika sudah muncul rasa seperti itu maka yang aku lakukan hanyalah mendoakannya, "semoga sehat, dawam, diberi kefahaman dan keberkahan".

Tapi sungguh demi kebaikannya, aku menyekolahkan dia demi kebaikannya di kemudian hari. Yang ada dalam pikiranku adalah memberikan bekal pendidikan Agama kepadanya agar siap menjalani kehidupan yang makin kotor. Insya Allah dengan memberikan pendidikan Agama akan menjadikan hidupnya lebih berhati-hati seperti halnya berhati-hatinya orang yang berjalan di jalanan yang penuh onak dan duri.

Keyakinanku, pendidikan Agama adalah bekal terbaiknya untuk mengarungi kehidupan yang makin kehilangan nilai ini. Pendidikan Agama akan menjadikan dia tetap sebagai manusia HAMBA ALLAH yang shalih dan mushlih.

Baca juga: Menjadi Orang Tua Bijak Menurut Al-Quran

Kabulkan niat baik kami YA ALLAH. Lindungi dan bimbinglah anak kami. Jadikan Alfin, anakku anak yang berguna sesuai kemampuannya kelak.

Reaksi:

Related Post

Show Disqus Comment Hide Disqus Comment

Disqus Comments